RSS

“OBESITAS”


BAB I
 
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Saat ini obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan di dalam negeri maupun di luar negeri. Kecenderungan terjadinya obesitas pada umumnya berhubungan erat dengan pola makan, status sosial, ketidakseimbangan antara aktivitas tubuh, dan konsumsi makanan. Obesitas memiliki hubungan erat dengan sindrom metabolikyang berefek berbahaya bagi kesehatan manusia dan juga membutuhkanbanyak biaya untuk menanggulanginya.
Obesitas tidak hanya berdampak pada medis, psikis maupun sosial, tetapi juga erat hubungannya dengan kelangsungan hidup penderitanya. Menurut WHO 1998, seseorang disebut obesitas bila IMT lebih dari normal atau disebut obesitas bila IMT ≥30,0 dan Berdasarkan kelasifikasi Asia Pasifik pada tahun 2000, denganpenyesuaian IMT untuk orang Asia, WHO mengusulkan untuk menurunkan batasan nilai potong untuk orang Asia yaitu Obes bila IMT >25,0 – 29,9. IMT adalah suatu angka yang didapat dari hasil berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat. Menurut salah satu penelitian, tiap kenaikan berat badan suatu unit IMT, dapat meningkatkan 4-5% mortalitas penyakit jantung koroner.
Walaupun berbagai faktor berperan dalam timbulnya obesita, yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa timbulnya obesitas lebih ditentukan oleh terlalu banyaknya makan, telalu sedikitnya aktivitas atau latihan fisik, atau keduanya. Berdasarkan hal tersebut diatas, setiap orang perlu memperhatikan banyaknya masukan makanan dan aktivitas fisik yang dilakukan.
Untuk hidup seseorang harus makan. Akan tetapi ada pula orang yang hidup untuk makan. Akibatnya, mereka mengalami obesitas. Kelebihan penimbunan lemak di atas 20% berat badan ideal, akan menimbulkan permasalahan klinik kerena kemungkinan terjadinya gangguan fungsi organ tubuh.
Manifestasi yang sering dijumpai pada obesitas, antara lain hipertensi, gagal jantung, penyakit arteri koroner, diabetes mellitus, batu empedu, perlemakan hati dan keluhan sendi.
Adapun laporan ini dibuat sebagai studi kasus mengenai obesitas dan mengetahui bagaimana alur terjadinya obesitas serta mengetahui bagaimana riwayat alamiah yang terjadi pada penderita obesitas tersebut sehingga pembaca dapat mengetahui secara jelas mengenai obesitas yang telah menjadi isu kesehatan secara global.


1.2     Tujuan
-   Mengetahui permasalahan tentang obesitas. 
-   Mengetahui faktor-faktor resiko penyebab obesitas. 
-  Mengetahui upaya pencegahan agar terhindar dari obesitas serta mengetahui cara          penanggulangannya terhadap penderita obesitas.

 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Obesitas
Obesitas atau kegemukan mempunyai pengertian yang berbeda-beda bagi setiap orang. Terkadang kita sering dibuat bingung dengan pengertian obesitas dan overweight, padahal kedua istilah tersebut mempunyai pengertian yang berbeda. Obesitas adalah suatu kondisi kelebihan berat tubuh akibat tertimbunnya lemak, untuk pria dan wanita masing- masing melebihi 20% dan 25% dari berat tubuh dan dapat membahayakan kesehatan. Sementara overweight (kelebihan berat badan, kegemukan) adalah keadaan dimana Berat Badan seseorang melebihi Berat Badan normal.
Para dokter-dokter memiliki definisi tersendiri tentang obesitas, di antaranya yaitu:
-        Suatu kondisi dimana lemak tubuh berada dalam jumlah yang berlebihan
-        Suatu penyakit kronik yang dapat diobati
-        Suatu penyakit epidemik (mewabah)
-       Suatu kondisi yang berhubungan dengan penyakit-penyakit lain dan dapat menurunkan kualitas hidup
-        Penanganan obesitas membutuhkan biaya perawatan yang sangat tinggi
Timbulnya obesitas lebih ditentukan oleh terlalu banyaknya makan, terlalu sedikitnya aktivitas atau latihan fisik, maupun keduanya. Dengan demikian tiap orang perlu memperhatikan banyaknya masukan makanan (disesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari) dan aktifitas fisik yang dilakukan. Perhatian lebih besar tertuju pada dua hal ini terutama diperlukan bagi mereka yang kebutulan berasal dari keluarga obesitas, berjenis kelamin wanita, pekerjaan banyaknya duduk, tidak senang melakukan olahraga, senang masak, serta emosinya labil.
Seandainya sekelompok orang dihadapkan pada suatu keharusan memilih menjadi orang gemuk atau langsing tanpa ada pilihan lain, niscaya sebagian besar akan memilih menjadi orang langsing. Jawaban semacam ini mungkin lebih menyolok pada kelompok wanita di banding pria. Hal ini dapat dibuktikan dari berbagai keadaan dan kecenderungan saat ini, misalnya dengan ramainya pusat-pusat kebugaran jasmani serta kegiatan senam ibu-ibu atau remaja putri baik itu berupa senam perut, senam pinggul, senam disko, senam seks, dan lain sebagainya.
Sehingga tidak heran bila kegemukan atau bahasa latinnya obesitas, menjadi salah satu keadaan yang sering ditakuti sementara orang. Meskipun bukan merupakan penyakit tetapi sekadar gejala, di beberapa negara, obesitas merupakan masalah gizi yang paling utama. Apalagi diingat bahwa obesitas sering dikaitankan dengan kenaikan insidensi berbagai penyakit maupun masalah kesehatan lainnya serta berhubungan dengan harapan hidup seseorang.
Bagi mereka yang kebetulan termasuk dalam kelompok orang gemuk tetapi tidak acuh dengan obesitasnya, barangkali tidak usah merasa repot dengan segala upaya yang harus ditempuh untuk mengatasi keadaan ini. Lain halnya dengan mereka yang begitu mendambakan bentuk tubuh yang langsing, singset atau sintal dan seksi, tentu saja akan menempuh berbagai upaya untuk mencapai keinginan tersebu. Bahkan kalau perlu dengan meminum suatu ramuan yang mungkin belum terbukti khasiatnya secara obyektif dan ilmiah. Tindakan operasi sekalipun akan ditempuh meskipun sudah diketahui bahwa risiko yang harus dihadapi kemudian tidak ringan dapat berakhir dengan kematian. Betapa mahalnya sebuah kegemukan, bisa ditanyakan pada mereka yang kebetulan mengalaminya.

2.2  Problema Obesitas di Masyarakat
Secara sederhana, obesitas menggambarkan suatu keadaan tertimbunya lemak dalam tubuh sebagai akibat berlebihnya masukan kalori. Secara klinis seseorang dinyatakan mengalami obesitas bila terdapat kelebihan berat badan sebesar 15% atau lebih dari berat badan idealnya. Dengan pengukuran yang lebih ilmiah, penentuan obesitas didasarkan pada proporsi lemak terhadap berat badan total seseorang.
Pada pria muda normal, rata-rata lemak tubuhnya adalah 12%, sedang pada wanita muda sekitar 26%. Pria yang memiliki lemak tubuh totalnya dinyatakan obesitas. Sementara itu, wanita baru dinyatakan obesitas bila lemak tubuhnya melebihi 30% dari berat tubuh totalnya. Apabila obesitas hanya diderita oleh beberapa orang dalam masyarakat tanpa menimbulkan masalah kesehatan, tentunya tidak perlu ada perhatian besar terhadapnya. Yang menjadi masalah adalah bahwa obesitas cukup banyak dijumpai dengan segala pengaruh negatifnya.
Dari berbagai penelitian dapat dibuktikan bahwa obesitas dapat meningkatkan resiko timbulnya berbagai macam penyakit kencing manis, gout, penyakit kantung empedu, aterosklerosis, koroner dan tekanan darah tinggi. Disamping itu juga, obesiats menjadi faktor penyulit pada penyakit saluran nafas seperti emfisema, bronchitis kronis dan asma, meningkatkan risiko pembedahan, mempersulit kehamilan dan akhirnya, meskipun tidak selalu, dapat memperpendek harapan hidup seseorang.
Hubungan obesitas dengan penyakit kencing manis dengan segala penyulitanya cukup banyak ditelaah. Diketahui bahwa pada obesitas terdapat kenaikan jumlah atau ukuran sel adiposa (sel lemak), tetapi sel ini sedikit mengandung reseptor insulin. Akibatnya, sel kurang berekasi terhadap pengaruh insulin yang berguna dalam pengaturan metabolisme hidrat arang dan lemak.
Kadar insulin pada orang obesitas meningkat mengiringi pertambahan berat badanya, tetapi insulin tidak berfungsi secara efektif. Di sisi lain, kenaikan aktivitas enzim lipase mengiringi kenaikan massa jaringan adiposa menyebabkan pengurain lemak sehingga banyak dilepskan asam lemak dalam darah, asam lemak bebas ini selanjutnya diangkut ke hati dan bersama kolesterol dalam hati akan dibuat menjadi suatu bentuk lipoprotein, VLDL (Very Low Density Lipoprotein). Akibat semuanya ini kolesterol dan trigliserida (lemak netral) dalam darah juga meningkat.
Adanya berbagai masalah kesehatan tersebut menyebabkan penderita obesitas atau keluarganya harus membelanjakan sebagian penghasilan keluarganya untuk biaya perawatan atau pengobatan.
Dalam skala nasional, apabila jumlah penderita obesitas cukup banyak, tentunya anggaran belanja untuk sektor kesehatan ini juga akan semakin banyak. Apalagi bila diingat bahwa penyakit yang berkaitan dengan obesitas misalnya kencing manis dan tekanan darah tinggi, boleh dikatakan merupakan penyakit seumur hidup yang memerlukan pengobatan teratur.
Di Indonesia, angka pasti penderita obesitas belum ada. Memang ada beberapa penelitian yang dilakukan terhadap beberapa subyek yang mengalami obesitas, tetapi secara epidemologis belum dijumpai laporan yang bersifat komprehensif. Namun demikian dapat diduga bahwa obesitas banyak dijumpai didaerah perkotaan.
Di negara-negara maju, karena merupakan masalah kesehatn masyarakat, penelitian yang berkaitan dengan obesitas cukup banyak dilakukan. Dari survei yang dilakukan sekitar satu setengah dasawarsa yaang lalu terhadap populasi dewas umur 20-74 tahun dan Amerika Serikat dilaporkan bahwa obesitas lebih banyak dijumpai pada kaum wanita dibanding kaum pria. Angka kejadian obesitas pada pria kulit putih lebih tinggi dibandingkan pria negro.

2.3  Gejala-gejala Terjadinya Obesitas
Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk.
Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki). Juga kadang sering ditemukan kelainan kulit.
Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki.

2.4  Faktor Terjadinya Obesitas
a.    Faktor genetik.
     Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Telah lama diamati bahwa  anak-anak obesita umumnya berasal dari keluarga dengan orang tua obesitas. Bila salah satu orang tua obesitas maka kira-kira 40%-50% anak-anaknya akan menjadi obesitas, sedangkan bila kedua orangtunya obesitas, 80% anak-anaknya akan menjadi obesitas. Barangkali saja timbulnya obesitas dalam keluarga semacam ini lebih ditentukan karena kebiasaan makan dalam keluarga yang bersangkutan, dan bukan karena fakaator genetis yang khusus. Hanya saja penelitian di laboratorium gizi Dunn di Cambridge, Inggris baru-baru ini menunjukkan peran faktor genetis.
     Pengamatan selama setahun terhadap bayi-bayi yang ibunya obesitas menunjukkan bahwa 50% diantaranya menjadi obesitas bukan karena makanannya yang berlebihan. Dikatakan bahwa pada bayi-bayi tersebut terdapat pengurangan kalori yang dibakar. Jadi, diduga bahwa beberapa orang memang secaara genetis sudah terprogam untuk obesitas.
b.    Faktor lingkungan.
     Gen merupakan faktor yang penting dalam berbagai  kasus obesitas, tetapi lingkungan seseorang juga memegang peranan yang cukup berarti. Lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan serta bagaimana aktivitasnya). Seseorang tentu saja tidak dapat mengubah pola genetiknya, tetapi dia dapat mengubah pola makan dan aktivitasnya.

c.    Faktor psikis.
Apa yang ada di dalam pikiran seseorang bisa mempengaruhi kebiasaan makannya. Banyak orangyang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan. Faktor stabilitas emosi diketahui berkaitan dengan obesitas. Keadaan obesitas dapat merupakan dampak dari pemecahan masalah emosi yang dalam, dan ini merupakan  suatu pelindung penting bagi yang bersangkutan. Dalam keadaan semacam ini menghilangkan obesitas tanpa menyediakan pemecahan alternatif yang memuaskan, justru akan memperberat masalah
d.   Faktor perkembangan.
Penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak (atau keduanya) menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh. Penderita obesitas, terutama yang menjadi gemuk pada masa anak-kanak, bisa memiliki sel lemak sampai 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal. Jumlah sel-sel lemak tidak dapat dikurangi, karena itu penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak di dalam setiap sel.
e.    Aktivitas fisik.
Kurangnya aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu penyebab utama dari meningkatnya angka kejadian obesitas di tengah masyarakat yang makmur. Orang-orang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang cenderung mengkonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang, akan mengalami obesitas. Obesitas banyak dijumpai pada orang yang kurang melakukan aktivitas fisik dan kebanyakan duduk. Dimasa industri sekarang ini, dengan meningkatnya mekanisasi dan kemudahan transportasi, orang cenderung kurang gerak atau sedikit menggunakan tenaga untuk aktivitas sehari-hari
f.     Umur.
Meskipun dapat terjadi pada semua umur, obesitas sering dianggap sebagai kelainan pada umur pertengahan. Obesitas yang muncul pada tahun pertama kehidupan biasanya disertai perkembangan rangka yang cepat dan anak menjadi besar untuk umurnya.
Anak-anak yang mengalami obesitas cenderung menjadi orang dewasa yang juga obesitas.
Obesitas pada anak-anak muda sering dijumpai dalam keluarga mampu, tetapi akan sulit dijumpai dalam keluarga mampu, tetapi akan sulit dijumpai pada keluarga miskin. Keadaan semacam ini misalnya terlihat pada keluarga pedagang maupun pegawai atau karyawan menengah keatas. Jadi, dalam hal ini umur bukan merupakan penentu utama timbunya obesitas.
g.    Jenis kelamin.
Jenis kelamin tampaknya juga ikut berperan dalam timbulnya obesitas. Meskipun dapat terjadi pada kedua jenis kelamin, tetapi obesitas lebih umum dijumpai pada wanita terutama setelah kehamilan dan pada saat menoupause.
Pada saat kehamilan jelas karena adanya peningkatan jaringan adiposa sebagai simpanan yang akan diperlukan selama masa menyusui.
Mungkin juga obesitas pada wanita disebabkan karena pengaruh endokrin, karena kondisi ini mungkin muncul pada saat adanya perubahan hormonal tersebut.  
h.    Obat-obatan.
     Kortikosteroid dan anti depresantrisiklik, khususnya, dapat menyebabkan penambahan berat badan. Selain itu obat hipertensi dan antipsikosis juga dapat.
i.      Tingkat sosial.
     Di negara-negara barat, obesitas banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah. Salah satu survei di Mahattan menunjukkan bahwa obesitas dijumpai 30% pada kelas sosial-ekonomi rendah 17% pada kelas menengah, dan 5% pada kelas atas.
     Obesitas banyak dijumpai pada wanita keluarga yang miskin barangkali karena sulitnya membeli makanan yang tinggi kandungan protein. Mereka hanya mampu membeli makana murah yang umumnya mengandung banyak hidrat arang. Obesitas yang dijumpai pada kalangan eksekutif atau usahawan, barangkali timbul karena makanan berlemak tinggi disertai penggunaan minuman beralkohol.
j.      Masalah medis.
     Ada juga obesitas yang disebabkan gangguan hormonal seperti hipotiroid, sindrom cushing, dan sindrom polikistik ovarium (pcos). Artritis yang mengurangi keaktifan fisik juga dapat menyebabkan penambahan berat badan.
k.    Kebiasaan makan.
     Tampaknya memang ada kebiasaan makan yang berbeda pada orang yang mengalami obesitas. Obesitas sering dijumpai pada orang yang senang masak atau bekerja di dapur. Disamping itu juga dijumpai pada orang yang memiliki gejala suka makan pada waktu malam. Ini biasa menyertai insomnia dan hilangnya nafsu makan pada pagi hari.
     Ada sementara orang beranggapan bahwa semua orang gemuk adalah orang yang suka makan. Ternyata beberapa peneliti menunjukkan bahwa orang gemuk tidak makan lebih banyak dibanding orang kurus. Bahkan terkadang orang kurus menyatakan sudah makan banyak tetapi tetap kurus.

2.5 Tipe Obesitas Berdasarkan Bentuk Tubuh
          a. Obesitas Tipe Buah Apel
Pada pria obesitas umumnya menyimpan lemak di bawah kulit dinding perut dan di rongga perut sehingga gemuk di perut dan mempunyai bentuk tubuhseperti buah apel (apple type). Karena lemak banyak berkumpul di ronggaperut, obesitas tipe buah apel disebut juga obesitas sentral, karenabanyak terdapat pada laki-laki disebut juga sebagai obesitas tipeandroid.
b. Obesitas Tipe Buah Pear
Kelebihan lemak pada wanita disimpan di bawah kulit bagian daerah pinggul dan paha, sehingga tubuh berbentuk seperti buah pear (pear type). Karena lemak berkumpul dipinggir tubuh yaitu di pinggul dan paha, obesitas tipe buah pear disebut juga sebagai obesitas perifer dan karena banyak terdapat pada wanita disebut juga sebagai obesitas tipe perempuan atau obesitas tipegynoid.
c. Obesitas Tipe Ovid
Obesitas jenis ini merupakan tipe obesitas yang besar diseluruh bagian tubuh/ badan. Tipe ovid ini umunya terdapat pada orang-orang yang gemuk secara genetik.

2.6     Cara Pengukuran Tingkat Obesitas
a. Pengukuran Secara Antropometrik
1. Body Mass Index (BMI)
Body Mass Index (BMI) adalah sebuah ukuran “berat terhadap tinggi” badan yang umum digunakan untuk menggolongkan orang dewasa ke dalam kategori Underweight (kekurangan berat badan), Overweight (kelebihan berat badan) dan Obesitas (kegemukan). Rumus atau cara menghitung BMI, yaitu:

IMT= BB (kg)
       T2 (m)




Perbandingan antara kriteria BMI WHO tradisional dan Asia Pasifik
(IOTF, WHO 2000)
Kategori
BMI WHO tradisional (kg/m2)
BMI (kg/m2) Asia Pasifik
Risk of Co-morbidities
Underweight
< 18.5
< 18.5
Rendah (tetapi resiko terhadap
masalah-masalah klinis lain
meningkat)
Batas Normal
20-20.5
18.5 – 22.9
Rata rata
Overweight:
>25
> 23

At Risk
25-30
23.0 – 24.9
Meningkat
Obese I
30-40
25.0 – 29.9
Sedang
Obese II
>40
> 30.0
Berbahaya


(Lingk22   Pinggang dan Pinggul) dan Lila
Untuk menilai timbunan lemak perut dapat digunakan cara lain, yaitu dengan mengukur rasio lingkar pinggang dan pinggul (RLPP) atau mengukur lingkar pinggang (LP). Disribusi lemak dalam tubuh dapat diketahui dengan menggunakan pengukuran lingkar lengan atas (LLA), pengukuran lingkar panggul / pinggang, dan melihat ciri fisik bentuk tubuh. Lemak yang berada di sekitar perut memberikan resiko kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan lemak di daerah paha atau bagian tubuh.yang lain. Suatu metoda yang sederhana namun cukup akurat untuk mengetahui hal tersebut adalah lingkar pinggang.


Pengukuran lingkar panggul / pinggang
Pengukuran
Pria

Wanita


Resiko Meningkat
Resiko sangat meningkat
Resiko meningkat
Resiko sangat meningkat
Lingkar pinggang
>94 cm
>102 cm
>80 cm
>88 cm

Pengukuran lingkar lengan atas (LLA) pada wanita usia subur (20-45 th)

LLA (cm)
Kriteria
25.7-28.5
Normal
28.5-34.2
Obesitas
34.2-39.7
Obesitas berat
>39.7
Obesitas sangat berat

3. Indeks BROCCA
Salah satu cara lain untuk mengukur obesitas adalah dengan menggunakan indeks Brocca, dengan rumus sebagai berikut Bila hasilnya:
90-110% = Berat badan normal
110-120% = Kelebihan berat badan (Overweight)
> 120% = Kegemukan (Obesitas)

b. Pengukuran Secara Laboratorik
              1. BOD POD
              2. DEXA (dual energy X-ray absorptiometry)
              3. Bioelectric Impedance Analysis (analisa tahanan bioelektrik)


2.7  Dampak yang Timbul Akibat Obesitas
Seseorang dengan obesitas menghadapi risiko masalah kesehatan yang berat, antara lain:
a.       Hipertensi.
Penambahan jaringan lemak meningkatkan aliran darah. Peningkatan kadar insulin berkaitan dengan retensi garam dan air yang meningkatkan volume darah. Laju jantung meningkat dan kapasitas pembuluh darah mengangkut darah berkurang. Semuanya dapat meningkatkan tekanan darah.
b. Diabetes.
Obesitas merupakan penyebab utama DM 2. Lemak berlebih  menyebabkan resistensi insulin, dan hiperglikemia berpengaruh negatif terhadap kesehatan.
c.  Dislipidemia.
Terdapat peningkatan kadar low-density lipoprotein cholesterol(jahat), penurunan kadar high-density lipoprotein cholesterol (baik) dan peningkatan kadar trigliserida. Dispilidemia berisiko terbentuknya aterosklerosis.
d. Penyakit jantung koroner dan Stroke.
     Penyakit-penyakit ini merupakan penyakit kardiovaskular akibat
     aterosklerosis.
e.  Osteoartritis.
     Obesitas memperberat beban pada sendi-sendi.
f.  Apnea tidur.
Obesitas menyebabkan saluran napas yang menyempit yangselanjutnya menyebabkan henti napas sesaat sewaktu tidur dan mendengkur berat.
          g.  Asma.
Anak dengan BBL atau obes cenderung lebih banyak mengalami serangan asma atau pembatasan keaktifan fisik.
 h.  Kanker.
Banyak jenis kanker yang berkaitan dengan BBL misalnya pada perempuan kanker payudara, uterus, serviks, ovarium dan kandung empedu, pada lelaki kanker kolon, rektum dan prostat.
i.   Penyakit perlemakan hati.
Baik peminum alkohol maupun bukan dapat mengidap penyakit perlemakan hati (non alcoholic fatty liver disease = NAFLD)atau non alcoholic steatohepatitis (NASH) yang dapat berkembang menjadi sirosis.
j.  Penyakit kandung empEdu.
Orang dengan BBL dapat menghasilkan banyak kolesterol yang berisiko batu kandung empedu.

 BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian mengenai mata kuliah Epidemiologi Penyakit Tidak Menular ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 22 September 2012, dengan melakukan wawancara  mulai pukul 14.00 – 16.00 WITA bertempat di Jl. M. Yamin Samarinda, Kalimantan Timur.

3.2 Alat dan Bahan
1.        Alat
                   Adapun alat yang digunakan yaitu:
-     Pulpen.
-        Kamera.
2.        Bahan
                   Adapun bahan yang digunakan yaitu:
-        Panduan daftar pertanyaan.
-        Kertas.

3.3 Metode Kerja
-       Mengunjungi responden di tempat kostnya.
-       Melakukan wawancara terbuka.
-       Mengobservasi keadaan responden  tempat tinggal (kamar kostnya).
-       Memotret responden dan tempat tinggalnya (kamar kostnya).


 BAB IV
HASIL dan PEMBAHASAN

4.1    Hasil Observasi
a.    Identitas Responden
Nama : Nn. DW
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 18 tahun.
Berat badan : 95 Kg
Tinggia badan : 165 cm
IMT : 34,89
Gol. Darah :
Pekerjaan : Mahasiswi
Alamat : Jl. M. Yamin, Samarinda.
Jenis Penderita : Obesitas.

4.2 Pembahasan
a.    Pengenalan Mengenai Obesitas
Obesitas adalah suatu kondisi kelebihan berat tubuh akibat tertimbunnya lemak, Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria.
Sementara overweight (kelebihan berat badan, kegemukan) adalah keadaan dimana Berat Badan seseorang melebihi Berat Badan normal.
  Timbulnya obesitas lebih ditentukan oleh terlalu banyaknya makan, terlalu sedikitnya aktivitas atau latihan fisik, maupun keduanya. Dengan demikian tiap orang perlu memperhatikan banyaknya masukan makanan
     Meskipun bukan merupakan penyakit tetapi sekadar gejala, di beberapa negara, obesitas merupakan masalah gizi yang paling utama. Apalagi diingat bahwa obesitas sering dikaitankan dengan kenaikan insidensi berbagai penyakit maupun masalah kesehatan lainnya serta berhubungan dengan harapan hidup seseorang.

b.   Gambaran umum responden.
  Dari hasil wawancara dan observasi, responden merupakan penderita obesitas, dimana setelah diukur dalam IMT didapatkan bahwa IMT dari responden adalah 34,89. Dengan hasil IMT tersebut responden merupakan kategori obesitas I. Dari hasil pengamatan bentuk tubuh responden merupakan obesitas bentuk ovid, yaitu obesitas di seluruh bagian tubuh. Obesitas jenis tersebut biasa terjadi kepada penderita obesitas genetik. Tetapi menurut responden saat diwawancara, responden tidak mengalami permasalahan kesehatan sama sekali serta tidak ditemukannya penyakit generatif dari riwayat kesehatan keluargannya. Sistem pencernaan responden juga cukup baik, dalam sehari responden selalu konstipasi sebanyak 1-2 kali dan tidak pernah mengalami sembelit.
  
c.    Riwayat Alamiah Penyakit Responde
 Riwayat alamiah penyakit yaitu perkembangan penyakit secara alamiah tanpa ikut campur tangan medis atau intervensi kesehatan lainya.
1.         Tahap Prepatogenesis
Pada tahap ini saat ibu mengandung responden sang ibu telah mengalami berat badan lebih sampai obesitas dan asupan makanan saat hamil sangat banyak.
2.         Tahap Patogenesis
a)        Tahap Inkubasi
Di tahap ini berat badan responden ketika lahir hampir mencapai 4 kg, dan karena sang ibu mengalami obesitas maka 80% kemungkinan anak yang dilahirkannya akan mengalami hal yang serupa.
 b)        Tahap Dini
Sewaktu mencapai umur 6 bulan responden telah mendapat pola asuh makan yang tidak tepat yaitu telah mendapatkan makanan pendamping selain asi, serta dari umur balita  sudah terbiasa ngemil makanan-makanan ringan, dan makan dalam porsi yang cukup banyak.
c)        Tahap Lanjut :
Responden mengalami kegemukan (overweight) yang selanjutnya menjadi obesitas akibat responden yang tidak menjaga perilaku pola makannya.
3.      Tahap Pasca patogensis :
Karena responden sampai sekarang mengalami obesitas, maka atas inisiatif dari responden sendiri, dalam kurun waktu 3 bulan terakhir responden melakukan progam diet/ penurunan berat badan, melakukan jogging/ olahraga lainnya 2x dalam seminggu dengan waktu 2-3 jam, dan sebelumnya responden pernah melakukan progam diet selama 4x tetapi tidak secara konsisten dan terhenti.

          d. Faktor Resiko Obesitas.
Beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkna terjadinya obesitas pada responden, yaitu:
1.    Host.
a)        Genetik.
Dalam hal ini responden mengalami obesitas karena faktor keturunan/genetik. Faktor genetik tersebut diwariskan oleh kedua orang tua dari responden sendiri, dimana seluruh anggota keluarganya juga mengalami obesitas dan berat badan lebih.
b)        Gaya hidup.
Responden mempunyai kebiasaan suka tidur malam/begadang, dalam seminggu dirinya dapat begadang sampai 3x seminggu. Nn. D.W juga mempunyai kebiasaan makan sambil menonton tv dalam kesehariannya dan untuk aktivitas fisik sendiri sangat minim ia lakukan.
c)        Jenis kelamin.
Responden berjenis kelamin perempuan. Dimana seperti diketahui perempuan mempunyai resiko lebih tinggi mengalami obesitas dibanding pria karena adanya pengaruh hormon endokrin.
d)       Pola makan.
Responden mempunyai kebiasaan pola makan yang tidak teratur, dimana dirinya sering mengkonsumsi goreng-gorengan, makanan instan/mie ( 2-3x dalam seminggu), sering mengkonsumsi makanan-makanan manis, sering makan malam/sore hari, sehabis makan langsung tidur, sering mengkonsumsi makanan ringan yang mengandung keju, sangat suka menyemil makanan secara terus-menerus dalam porsi kecil, suka mengkonsumsi softdrink, mengkonsumsi coklat, dan pada saat makan responden mengatakan bahwa ia sering makan secara teburu-buru, karena itulah rasa lapar cepat melanda responden.

2.    Environment
a)        Sosial.
Disini responden terkadang mengalami rasa stres/ tekanan-tekanan dari berbagai penyebab, sehingga untuk merelaksasikan pikirannya responden melampiaskannya kepada makanan. Adapun faktor keluarga juga berpengaruh disini dimana motivasi untuk menyuruh dirinya melakukan diet sangat minim, yaitu dari sisi orang tua sendiri hanya menegur saja dengan teguran-teguran kecil. Terdapat kebiasaan keluarga yang terbiasa menyediakan makanan dalam jumlah besar pada saat di meja makan. Pada waktu kecil keluarga responden sudah membiasakan dirinya untuk mengkonsumsi makanan-makanan kecil/nyemil dan makan dalam jumlah yang lebih

b)        Ekonomi.
Dari segi ekonomi responden termasuk dalam kategori orang yang berkecukupuan sehingga untuk menjangkau mendapatkan keperluan biologisnya/ makan sangatlah terjangkau sekali.
c)        Budaya
Responden merupakan seorang penderita obesitas dari kecil, hal ini juga menyebabkan sebuah kebiasaan baginya, yaitu malas melakukan aktivitas atau gerakan tubuh. Oleh kebiaasaan yang terus menerus dalam kurun waktu yang lama akhirnya tidak ada perubahan/penurunan yang signifikan dengan obesitas yang dialami/diderita.

  3.    Agent
a)        Kimia
Agent kimia dalam hal yang menyakut pasien adalah, akibat seringya responden mengkonsumsi makanan-makanan yang berupa snack, serta makanan siap saji yang mengandung banyak bahan kimia yang dapat memicu serta bahan-bahan pengawet berbahaya yang terkandung didalam makanan berupa snack tersebut.

e. 5 Tahap Upaya Pencegahan Penderita
1.        Health Promotion
a)        Orang tua.
       Untuk mencegah obesitas tersebut sebaiknya orang tua harus mengetahui bahaya tentang obesitas sehingga orang tua dapat mencegah timbulnya obesitas pada anaknya, pencegahan tersebut dapat di ketahui melalui pengetahuan edukasi kesehatan tentang obesitas, dan merubah paradigma orang tua bahwa anak yang gemuk melebihi batas kewajarannya bukanlah anak yang sehat dan lucu.
b)    Penderita Obesitas.
Sebaiknya jika seseorang yang telah menderita obesitas secara genetik, mulai mencari tahu apa saja dampak yang di timbulkan akibat obesitas tersebut/ health education. Dan mulai membuka paradigma tentang makanan tidak sebagai pemuas nafsu semata/ serta bukan sebagai pelampiasan akibat rasa lapar yang dialami, tanpa memikirkan kembali apa-apa saja dampak yang di timbulkan.
2.        Spesifict Protection
Upaya proteksi dilakukan untuk mengurangi atau menurunkan pengaruh penyebab serendah mungkin. Salah satu bentuk spesific protection adalah mengatur pola makan secara benar, memperbanyak aktivitas fisik, menghindari makanan-makanan yang dapat memicu obesitas tersebut, menghindari pola/ gaya hidup yang dapat pula memicu obesitas, hindari untuk makan dalam keadaan yang sangat lapar karena akan memicu pengambilan porsi makanan yang cukup besar.
3.        Early diagnosis and Promt Treatment
Pada tahap ini mulai lah mengecek kesehatan secara keseluruhan, karena di khwatirkan bila terjadi obesitas maka akan sangat rentan sekali menderita penyakit-penyakit degeneratif.
4.        Disability Limitation
Untuk mencegah kembali adanya obesitas dan penyakit lainnya yang disebabkanya, mulai lah mencoba hidup sehat , dengan makan-makanan yang banyak mengandung vitamin, serat, mineral dan lain-lain. Mintalah motivasi dari orang-orang terdekat untuk mengurangi atau mencegah obesitas tersebut berlangsung lebih lama.
5.        Rehabilitation
Di tahap ini cobalah untuk melaksanakan progam diet dengan benar (diet rendah lemak ), pergunakan progam diet yang perlahan dan stabil lalu mencoba merubah pola pikir bahwa diet yang dilakukan juga untuk menjaga kesehatan dan bukan semata-mata untuk mendapatkan tubuh yang indah saja. Lakukan lah rutinitas olahraga dalam seminggu, baik olahraga berat maupun ringan. Disiplinkan lah diri dengan progam diet yang direncanakan. Pemeliharaan berat badan setelah penurunan berat badan tercapai. Pemeliharaan berat badan merupakan bagian tersulit dari pengendalian berat badan. Program yang dipilih harus meliputi perubahan kebiasaan makan dan aktivitas fisik yang permanen, untuk merubah gaya hidup yang pada masa lalu menyokong terjadinya penambahan berat badan/obesitas.
BAB V
PENUTUP

5.1       Kesimpulan
a. Obesitas adalah suatu kondisi kelebihan berat tubuh akibat tertimbunnya lemak, Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria.
b.    Obesitas dapat dialami dari berbagai faktor yaitu dari faktor genetik, faktor lingkungan, aktivitas fisik, pola makan, tingkat sosial, umur, jenis kelamin, psikis, obat-obatan dsb. Dari hasil penulisan laporan ini adapun pembahasan mengenai responden yang menderita obesitas secara genetik. Obesitas secara genetik ini merupakan hal yang sangat sulit dihindari oleh turunannya karena kemungkinan mengalami obesitas jauh lebih besar 80% dari orang yang tidak genetik mempunyai riwayat keluarga obesitas.
c.    Upaya  pencegahan terhadap obesitas baik yang belum menderita dan yang sudah menderita dengan cara mengatur kembali pola makan yang  baik dn benar, selektiflah dalam menentukan makanan yang sehat dan bergizi yang tidak hanya meninggalkan rasa kenyang saja melainkan yang menyehatkan bagi tubuh dan bukan menimbulkan permasalahan-permasalahan obesitas. Mulai lah kembali menjalankan akitivitas hidup sehat yaitu dengan berolahrga secara teratur , serta konsisten untuk menjaga berat badan yang ideal untuk mendapatkan kualiats hidup yang lebih baik.

5.2 Saran
a.         Sebaiknya responden mulai menjaga pola dan prilaku makannya dengan benar.
b.     Hindari/ kurangi makanan yang banyak menganduk lemak, seperti goreng-gorengan dan lainnya.
c.     Mulailah melakukan aktivitas fisik secara maximal, dan olahraga lah secara teratur, usahakan ada berolahraga dalam seminggu.
d.        Hindari perilaku perilaku yang memancing nafsu makan.
e.       Mulai lah melakukan progam diet secara perlahan dan konsisten terhadap progamnya.
f.  Saat mengalami penurunan berat badan usahakan agar tidak menghentikan pemeliharaan berat badan, dan tetap konsisten pada tujuan awal agar selalu terjaga berat badan dalam keadaan idel.

DAFTAR PUSTAKA

Misnadiarly. 2007. Obesitas Sebagai Faktor Risiko Beberapa Penyakit . Pustaka Obor Populer, Jakarta.












  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS