BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Definisi Obesitas
Obesitas atau kegemukan mempunyai pengertian yang
berbeda-beda bagi setiap orang. Terkadang kita sering dibuat bingung dengan
pengertian obesitas dan overweight, padahal kedua istilah tersebut mempunyai
pengertian yang berbeda. Obesitas adalah suatu kondisi kelebihan berat tubuh
akibat tertimbunnya lemak, untuk pria dan wanita masing- masing melebihi 20%
dan 25% dari berat tubuh dan dapat membahayakan kesehatan. Sementara overweight
(kelebihan berat badan, kegemukan) adalah keadaan dimana Berat Badan seseorang
melebihi Berat Badan normal.
Para dokter-dokter memiliki definisi tersendiri
tentang obesitas, di antaranya yaitu:
-
Suatu kondisi dimana lemak tubuh berada
dalam jumlah yang berlebihan
-
Suatu penyakit kronik yang dapat diobati
-
Suatu penyakit epidemik (mewabah)
- Suatu kondisi yang berhubungan dengan
penyakit-penyakit lain dan dapat menurunkan kualitas hidup
-
Penanganan obesitas membutuhkan biaya
perawatan yang sangat tinggi
Timbulnya obesitas lebih ditentukan
oleh terlalu banyaknya makan, terlalu sedikitnya aktivitas atau latihan fisik,
maupun keduanya. Dengan demikian tiap orang perlu memperhatikan banyaknya
masukan makanan (disesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari) dan aktifitas fisik
yang dilakukan. Perhatian lebih besar tertuju pada dua hal ini terutama
diperlukan bagi mereka yang kebutulan berasal dari keluarga obesitas, berjenis
kelamin wanita, pekerjaan banyaknya duduk, tidak senang melakukan olahraga,
senang masak, serta emosinya labil.
Seandainya sekelompok orang
dihadapkan pada suatu keharusan memilih menjadi orang gemuk atau langsing tanpa
ada pilihan lain, niscaya sebagian besar akan memilih menjadi orang langsing.
Jawaban semacam ini mungkin lebih menyolok pada kelompok wanita di banding
pria. Hal ini dapat dibuktikan dari berbagai keadaan dan kecenderungan saat
ini, misalnya dengan ramainya pusat-pusat kebugaran jasmani serta kegiatan
senam ibu-ibu atau remaja putri baik itu berupa senam perut, senam pinggul,
senam disko, senam seks, dan lain sebagainya.
Sehingga tidak heran bila kegemukan
atau bahasa latinnya obesitas, menjadi salah satu keadaan yang sering ditakuti
sementara orang. Meskipun bukan merupakan penyakit tetapi sekadar gejala, di
beberapa negara, obesitas merupakan masalah gizi yang paling utama. Apalagi
diingat bahwa obesitas sering dikaitankan dengan kenaikan insidensi berbagai
penyakit maupun masalah kesehatan lainnya serta berhubungan dengan harapan
hidup seseorang.
Bagi mereka yang kebetulan termasuk
dalam kelompok orang gemuk tetapi tidak acuh dengan obesitasnya, barangkali
tidak usah merasa repot dengan segala upaya yang harus ditempuh untuk mengatasi
keadaan ini. Lain halnya dengan mereka yang begitu mendambakan bentuk tubuh
yang langsing, singset atau sintal dan seksi, tentu saja akan menempuh berbagai
upaya untuk mencapai keinginan tersebu. Bahkan kalau perlu dengan meminum suatu
ramuan yang mungkin belum terbukti khasiatnya secara obyektif dan ilmiah.
Tindakan operasi sekalipun akan ditempuh meskipun sudah diketahui bahwa risiko
yang harus dihadapi kemudian tidak ringan dapat berakhir dengan kematian.
Betapa mahalnya sebuah kegemukan, bisa ditanyakan pada mereka yang kebetulan
mengalaminya.
2.2 Problema Obesitas di Masyarakat
Secara sederhana, obesitas
menggambarkan suatu keadaan tertimbunya lemak dalam tubuh sebagai akibat
berlebihnya masukan kalori. Secara klinis seseorang dinyatakan mengalami
obesitas bila terdapat kelebihan berat badan sebesar 15% atau lebih dari berat
badan idealnya. Dengan pengukuran yang lebih ilmiah, penentuan obesitas
didasarkan pada proporsi lemak terhadap berat badan total seseorang.
Pada pria muda normal, rata-rata
lemak tubuhnya adalah 12%, sedang pada wanita muda sekitar 26%. Pria yang
memiliki lemak tubuh totalnya dinyatakan obesitas. Sementara itu, wanita baru
dinyatakan obesitas bila lemak tubuhnya melebihi 30% dari berat tubuh totalnya.
Apabila obesitas hanya diderita oleh beberapa orang dalam masyarakat tanpa
menimbulkan masalah kesehatan, tentunya tidak perlu ada perhatian besar
terhadapnya. Yang menjadi masalah adalah bahwa obesitas cukup banyak dijumpai
dengan segala pengaruh negatifnya.
Dari berbagai penelitian dapat
dibuktikan bahwa obesitas dapat meningkatkan resiko timbulnya berbagai macam
penyakit kencing manis, gout, penyakit kantung empedu, aterosklerosis, koroner
dan tekanan darah tinggi. Disamping itu juga, obesiats menjadi faktor penyulit
pada penyakit saluran nafas seperti emfisema, bronchitis kronis dan asma,
meningkatkan risiko pembedahan, mempersulit kehamilan dan akhirnya, meskipun tidak
selalu, dapat memperpendek harapan hidup seseorang.
Hubungan obesitas dengan penyakit
kencing manis dengan segala penyulitanya cukup banyak ditelaah. Diketahui bahwa
pada obesitas terdapat kenaikan jumlah atau ukuran sel adiposa (sel lemak),
tetapi sel ini sedikit mengandung reseptor insulin. Akibatnya, sel kurang
berekasi terhadap pengaruh insulin yang berguna dalam pengaturan metabolisme
hidrat arang dan lemak.
Kadar insulin pada orang obesitas
meningkat mengiringi pertambahan berat badanya, tetapi insulin tidak berfungsi
secara efektif. Di sisi lain, kenaikan aktivitas enzim lipase mengiringi
kenaikan massa jaringan adiposa menyebabkan pengurain lemak sehingga banyak
dilepskan asam lemak dalam darah, asam lemak bebas ini selanjutnya diangkut ke
hati dan bersama kolesterol dalam hati akan dibuat menjadi suatu bentuk
lipoprotein, VLDL (Very Low Density Lipoprotein). Akibat semuanya ini
kolesterol dan trigliserida (lemak netral) dalam darah juga meningkat.
Adanya berbagai masalah kesehatan
tersebut menyebabkan penderita obesitas atau keluarganya harus membelanjakan
sebagian penghasilan keluarganya untuk biaya perawatan atau pengobatan.
Dalam skala nasional, apabila
jumlah penderita obesitas cukup banyak, tentunya anggaran belanja untuk sektor
kesehatan ini juga akan semakin banyak. Apalagi bila diingat bahwa penyakit
yang berkaitan dengan obesitas misalnya kencing manis dan tekanan darah tinggi,
boleh dikatakan merupakan penyakit seumur hidup yang memerlukan pengobatan
teratur.
Di Indonesia, angka pasti penderita
obesitas belum ada. Memang ada beberapa penelitian yang dilakukan terhadap
beberapa subyek yang mengalami obesitas, tetapi secara epidemologis belum
dijumpai laporan yang bersifat komprehensif. Namun demikian dapat diduga bahwa
obesitas banyak dijumpai didaerah perkotaan.
Di negara-negara maju, karena
merupakan masalah kesehatn masyarakat, penelitian yang berkaitan dengan
obesitas cukup banyak dilakukan. Dari survei yang dilakukan sekitar satu
setengah dasawarsa yaang lalu terhadap populasi dewas umur 20-74 tahun dan
Amerika Serikat dilaporkan bahwa obesitas lebih banyak dijumpai pada kaum
wanita dibanding kaum pria. Angka kejadian obesitas pada pria kulit putih lebih
tinggi dibandingkan pria negro.
2.3 Gejala-gejala Terjadinya Obesitas
Penimbunan lemak yang
berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru,
sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun penderita hanya
melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat
tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur
apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk.
Obesitas bisa
menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan
memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan
kaki). Juga kadang sering ditemukan kelainan kulit.
Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih
sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat
dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Sering
ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah
tungkai dan pergelangan kaki.
2.4 Faktor Terjadinya Obesitas
a. Faktor
genetik.
Obesitas cenderung diturunkan, sehingga
diduga memiliki penyebab genetik. Telah lama diamati bahwa anak-anak obesita umumnya berasal dari
keluarga dengan orang tua obesitas. Bila salah satu orang tua obesitas maka
kira-kira 40%-50% anak-anaknya akan menjadi obesitas, sedangkan bila kedua orangtunya
obesitas, 80% anak-anaknya akan menjadi obesitas. Barangkali saja timbulnya
obesitas dalam keluarga semacam ini lebih ditentukan karena kebiasaan makan
dalam keluarga yang bersangkutan, dan bukan karena fakaator genetis yang
khusus. Hanya saja penelitian di laboratorium gizi Dunn di Cambridge, Inggris
baru-baru ini menunjukkan peran faktor genetis.
Pengamatan selama setahun terhadap
bayi-bayi yang ibunya obesitas menunjukkan bahwa 50% diantaranya menjadi
obesitas bukan karena makanannya yang berlebihan. Dikatakan bahwa pada
bayi-bayi tersebut terdapat pengurangan kalori yang dibakar. Jadi, diduga bahwa
beberapa orang memang secaara genetis sudah terprogam untuk obesitas.
b. Faktor
lingkungan.
Gen merupakan faktor yang penting dalam
berbagai kasus obesitas, tetapi
lingkungan seseorang juga memegang peranan yang cukup berarti. Lingkungan ini
termasuk perilaku/pola gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang
makan serta bagaimana aktivitasnya). Seseorang tentu saja tidak dapat mengubah
pola genetiknya, tetapi dia dapat mengubah pola makan dan aktivitasnya.
c. Faktor
psikis.
Apa
yang ada di dalam pikiran seseorang bisa mempengaruhi kebiasaan makannya.
Banyak orangyang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan. Faktor
stabilitas emosi diketahui berkaitan dengan obesitas. Keadaan obesitas dapat
merupakan dampak dari pemecahan masalah emosi yang dalam, dan ini
merupakan suatu pelindung penting bagi
yang bersangkutan. Dalam keadaan semacam ini menghilangkan obesitas tanpa
menyediakan pemecahan alternatif yang memuaskan, justru akan memperberat
masalah
d. Faktor
perkembangan.
Penambahan
ukuran atau jumlah sel-sel lemak (atau keduanya) menyebabkan bertambahnya
jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh. Penderita obesitas, terutama yang
menjadi gemuk pada masa anak-kanak, bisa memiliki sel lemak sampai 5 kali lebih
banyak dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal. Jumlah sel-sel lemak
tidak dapat dikurangi, karena itu penurunan berat badan hanya dapat dilakukan
dengan cara mengurangi jumlah lemak di dalam setiap sel.
e. Aktivitas
fisik.
Kurangnya
aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu penyebab utama dari
meningkatnya angka kejadian obesitas di tengah masyarakat yang makmur.
Orang-orang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang
cenderung mengkonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik
yang seimbang, akan mengalami obesitas. Obesitas banyak dijumpai pada orang
yang kurang melakukan aktivitas fisik dan kebanyakan duduk. Dimasa industri sekarang
ini, dengan meningkatnya mekanisasi dan kemudahan transportasi, orang cenderung
kurang gerak atau sedikit menggunakan tenaga untuk aktivitas sehari-hari
f. Umur.
Meskipun
dapat terjadi pada semua umur, obesitas sering dianggap sebagai kelainan pada
umur pertengahan. Obesitas yang muncul pada tahun pertama kehidupan biasanya
disertai perkembangan rangka yang cepat dan anak menjadi besar untuk umurnya.
Anak-anak
yang mengalami obesitas cenderung menjadi orang dewasa yang juga obesitas.
Obesitas
pada anak-anak muda sering dijumpai dalam keluarga mampu, tetapi akan sulit
dijumpai dalam keluarga mampu, tetapi akan sulit dijumpai pada keluarga miskin.
Keadaan semacam ini misalnya terlihat pada keluarga pedagang maupun pegawai
atau karyawan menengah keatas. Jadi, dalam hal ini umur bukan merupakan penentu
utama timbunya obesitas.
g. Jenis
kelamin.
Jenis
kelamin tampaknya juga ikut berperan dalam timbulnya obesitas. Meskipun dapat
terjadi pada kedua jenis kelamin, tetapi obesitas lebih umum dijumpai pada
wanita terutama setelah kehamilan dan pada saat menoupause.
Pada
saat kehamilan jelas karena adanya peningkatan jaringan adiposa sebagai
simpanan yang akan diperlukan selama masa menyusui.
Mungkin
juga obesitas pada wanita disebabkan karena pengaruh endokrin, karena kondisi
ini mungkin muncul pada saat adanya perubahan hormonal tersebut.
h. Obat-obatan.
Kortikosteroid dan anti depresantrisiklik,
khususnya, dapat menyebabkan penambahan berat badan. Selain itu obat hipertensi
dan antipsikosis juga dapat.
i. Tingkat
sosial.
Di negara-negara barat, obesitas banyak
dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah. Salah satu survei di Mahattan
menunjukkan bahwa obesitas dijumpai 30% pada kelas sosial-ekonomi rendah 17%
pada kelas menengah, dan 5% pada kelas atas.
Obesitas banyak dijumpai pada wanita
keluarga yang miskin barangkali karena sulitnya membeli makanan yang tinggi
kandungan protein. Mereka hanya mampu membeli makana murah yang umumnya
mengandung banyak hidrat arang. Obesitas yang dijumpai pada kalangan eksekutif
atau usahawan, barangkali timbul karena makanan berlemak tinggi disertai
penggunaan minuman beralkohol.
j. Masalah
medis.
Ada juga obesitas yang disebabkan gangguan
hormonal seperti hipotiroid, sindrom cushing, dan sindrom polikistik ovarium
(pcos). Artritis yang mengurangi keaktifan fisik juga dapat menyebabkan
penambahan berat badan.
k. Kebiasaan
makan.
Tampaknya memang ada kebiasaan makan yang
berbeda pada orang yang mengalami obesitas. Obesitas sering dijumpai pada orang
yang senang masak atau bekerja di dapur. Disamping itu juga dijumpai pada orang
yang memiliki gejala suka makan pada waktu malam. Ini biasa menyertai insomnia
dan hilangnya nafsu makan pada pagi hari.
Ada sementara orang beranggapan bahwa semua
orang gemuk adalah orang yang suka makan. Ternyata beberapa peneliti
menunjukkan bahwa orang gemuk tidak makan lebih banyak dibanding orang kurus.
Bahkan terkadang orang kurus menyatakan sudah makan banyak tetapi tetap kurus.
2.5
Tipe Obesitas Berdasarkan Bentuk Tubuh
a.
Obesitas Tipe Buah Apel
Pada pria obesitas umumnya menyimpan lemak di bawah
kulit dinding perut dan di rongga perut sehingga gemuk di perut dan mempunyai
bentuk tubuhseperti buah apel (apple type). Karena lemak banyak berkumpul di
ronggaperut, obesitas tipe buah apel disebut juga obesitas sentral,
karenabanyak terdapat pada laki-laki disebut juga sebagai obesitas tipeandroid.
b.
Obesitas Tipe Buah Pear
Kelebihan lemak pada wanita disimpan di bawah kulit
bagian daerah pinggul dan paha, sehingga tubuh berbentuk seperti buah pear
(pear type). Karena lemak berkumpul dipinggir tubuh yaitu di pinggul dan paha,
obesitas tipe buah pear disebut juga sebagai obesitas perifer dan karena banyak
terdapat pada wanita disebut juga sebagai obesitas tipe perempuan atau obesitas
tipegynoid.
c.
Obesitas Tipe Ovid
Obesitas jenis ini merupakan tipe obesitas yang
besar diseluruh bagian tubuh/ badan. Tipe ovid ini umunya terdapat pada
orang-orang yang gemuk secara genetik.
2.6 Cara Pengukuran Tingkat Obesitas
a. Pengukuran Secara Antropometrik
1. Body Mass Index (BMI)
Body Mass Index (BMI) adalah sebuah
ukuran “berat terhadap tinggi” badan yang umum digunakan untuk menggolongkan
orang dewasa ke dalam kategori Underweight (kekurangan berat badan), Overweight
(kelebihan berat badan) dan Obesitas (kegemukan). Rumus atau cara menghitung
BMI, yaitu:
Perbandingan
antara kriteria BMI WHO tradisional dan Asia Pasifik
(IOTF, WHO 2000)
|
Kategori
|
BMI WHO tradisional (kg/m2)
|
BMI (kg/m2) Asia Pasifik
|
Risk of Co-morbidities
|
|
Underweight
|
<
18.5
|
<
18.5
|
Rendah
(tetapi resiko terhadap
masalah-masalah
klinis lain
meningkat)
|
|
Batas
Normal
|
20-20.5
|
18.5
– 22.9
|
Rata
rata
|
|
Overweight:
|
>25
|
>
23
|
|
|
At
Risk
|
25-30
|
23.0
– 24.9
|
Meningkat
|
|
Obese
I
|
30-40
|
25.0
– 29.9
|
Sedang
|
|
Obese
II
|
>40
|
>
30.0
|
Berbahaya
|
(Lingk22 Pinggang dan Pinggul) dan Lila
Untuk menilai timbunan
lemak perut dapat digunakan cara lain, yaitu dengan mengukur rasio lingkar
pinggang dan pinggul (RLPP) atau mengukur lingkar pinggang (LP). Disribusi lemak dalam tubuh dapat diketahui dengan
menggunakan pengukuran lingkar lengan atas (LLA), pengukuran lingkar panggul /
pinggang, dan melihat ciri fisik bentuk tubuh. Lemak yang berada di sekitar
perut memberikan resiko kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan lemak di
daerah paha atau bagian tubuh.yang lain. Suatu metoda yang sederhana namun
cukup akurat untuk mengetahui hal tersebut adalah lingkar pinggang.
Pengukuran lingkar panggul / pinggang
|
Pengukuran
|
Pria
|
|
Wanita
|
|
|
Resiko
Meningkat
|
Resiko sangat
meningkat
|
Resiko meningkat
|
Resiko sangat meningkat
|
|
Lingkar pinggang
|
>94 cm
|
>102 cm
|
>80 cm
|
>88 cm
|
Pengukuran lingkar lengan atas (LLA) pada wanita usia
subur (20-45 th)
|
LLA (cm)
|
Kriteria
|
|
25.7-28.5
|
Normal
|
|
28.5-34.2
|
Obesitas
|
|
34.2-39.7
|
Obesitas berat
|
|
>39.7
|
Obesitas sangat berat
|
3. Indeks BROCCA
Salah satu cara lain untuk mengukur
obesitas adalah dengan menggunakan indeks Brocca, dengan rumus sebagai berikut Bila
hasilnya:
90-110%
= Berat badan normal
110-120%
= Kelebihan berat badan (Overweight)
>
120% = Kegemukan (Obesitas)
b. Pengukuran Secara Laboratorik
1. BOD POD
2. DEXA (dual energy X-ray absorptiometry)
3. Bioelectric Impedance Analysis (analisa tahanan
bioelektrik)
2.7 Dampak yang Timbul Akibat Obesitas
Seseorang dengan obesitas
menghadapi risiko masalah kesehatan yang berat, antara lain:
a.
Hipertensi.
Penambahan
jaringan lemak meningkatkan aliran darah. Peningkatan kadar insulin berkaitan
dengan retensi garam dan air yang meningkatkan volume darah. Laju jantung
meningkat dan kapasitas pembuluh darah mengangkut darah berkurang. Semuanya dapat
meningkatkan tekanan darah.
b.
Diabetes.
Obesitas
merupakan penyebab utama DM 2. Lemak berlebih menyebabkan resistensi insulin, dan
hiperglikemia berpengaruh negatif terhadap kesehatan.
c. Dislipidemia.
Terdapat peningkatan kadar low-density lipoprotein
cholesterol(jahat), penurunan kadar high-density lipoprotein cholesterol (baik)
dan peningkatan kadar trigliserida. Dispilidemia berisiko terbentuknya
aterosklerosis.
d. Penyakit jantung koroner dan Stroke.
Penyakit-penyakit
ini merupakan penyakit kardiovaskular akibat
aterosklerosis.
e. Osteoartritis.
Obesitas memperberat beban pada
sendi-sendi.
f. Apnea
tidur.
Obesitas menyebabkan saluran napas yang menyempit
yangselanjutnya menyebabkan henti napas sesaat sewaktu tidur dan mendengkur berat.
g. Asma.
Anak dengan BBL atau obes cenderung
lebih banyak mengalami serangan asma atau pembatasan keaktifan fisik.
h. Kanker.
Banyak jenis kanker yang berkaitan
dengan BBL misalnya pada perempuan kanker payudara, uterus, serviks, ovarium
dan kandung empedu, pada lelaki kanker kolon, rektum dan prostat.
i. Penyakit perlemakan hati.
Baik peminum alkohol maupun bukan dapat mengidap penyakit
perlemakan hati (non alcoholic fatty liver disease = NAFLD)atau non alcoholic
steatohepatitis (NASH) yang dapat berkembang menjadi sirosis.
j. Penyakit
kandung empEdu.
Orang dengan BBL dapat menghasilkan banyak
kolesterol yang berisiko batu kandung empedu.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
3.1
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian mengenai mata kuliah
Epidemiologi Penyakit Tidak Menular ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal
22 September 2012, dengan melakukan wawancara
mulai pukul 14.00 – 16.00 WITA bertempat di Jl. M. Yamin Samarinda,
Kalimantan Timur.
3.2
Alat dan Bahan
1.
Alat
Adapun
alat yang digunakan yaitu:
- Pulpen.
-
Kamera.
2. Bahan
Adapun
bahan yang digunakan yaitu:
-
Panduan daftar pertanyaan.
-
Kertas.
3.3
Metode Kerja
- Mengunjungi
responden di tempat kostnya.
- Melakukan
wawancara terbuka.
- Mengobservasi
keadaan responden tempat tinggal (kamar
kostnya).
-
Memotret responden dan tempat tinggalnya
(kamar kostnya).
BAB
IV
HASIL
dan PEMBAHASAN
4.1
Hasil
Observasi
a.
Identitas Responden
Nama : Nn. DW
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 18 tahun.
Berat badan : 95 Kg
Tinggia badan : 165 cm
IMT : 34,89
Gol. Darah :
Pekerjaan : Mahasiswi
Alamat : Jl. M. Yamin, Samarinda.
Jenis Penderita : Obesitas.
4.2
Pembahasan
a. Pengenalan Mengenai Obesitas
Obesitas adalah suatu kondisi kelebihan berat tubuh
akibat tertimbunnya lemak, Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih
banyak dibandingkan pria. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan
berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria.
Sementara overweight (kelebihan berat badan,
kegemukan) adalah keadaan dimana Berat Badan seseorang melebihi Berat Badan
normal.
Timbulnya
obesitas lebih ditentukan oleh terlalu banyaknya makan, terlalu sedikitnya
aktivitas atau latihan fisik, maupun keduanya. Dengan demikian tiap orang perlu
memperhatikan banyaknya masukan makanan
Meskipun
bukan merupakan penyakit tetapi sekadar gejala, di beberapa negara, obesitas
merupakan masalah gizi yang paling utama. Apalagi diingat bahwa obesitas sering
dikaitankan dengan kenaikan insidensi berbagai penyakit maupun masalah
kesehatan lainnya serta berhubungan dengan harapan hidup seseorang.
b.
Gambaran
umum responden.
Dari hasil wawancara dan observasi, responden
merupakan penderita obesitas, dimana setelah diukur dalam IMT didapatkan bahwa
IMT dari responden adalah 34,89. Dengan hasil IMT tersebut responden merupakan
kategori obesitas I. Dari hasil pengamatan bentuk tubuh responden merupakan
obesitas bentuk ovid, yaitu obesitas di seluruh bagian tubuh. Obesitas jenis
tersebut biasa terjadi kepada penderita obesitas genetik. Tetapi menurut
responden saat diwawancara, responden tidak mengalami permasalahan kesehatan
sama sekali serta tidak ditemukannya penyakit generatif dari riwayat kesehatan
keluargannya. Sistem pencernaan responden juga cukup baik, dalam sehari
responden selalu konstipasi sebanyak 1-2 kali dan tidak pernah mengalami
sembelit.
c.
Riwayat Alamiah Penyakit Responde
Riwayat alamiah penyakit yaitu perkembangan penyakit secara
alamiah tanpa ikut campur tangan medis atau intervensi kesehatan lainya.
1.
Tahap
Prepatogenesis
Pada
tahap ini saat ibu mengandung responden sang ibu telah mengalami berat badan
lebih sampai obesitas dan asupan makanan saat hamil sangat banyak.
2.
Tahap
Patogenesis
a)
Tahap
Inkubasi
Di
tahap ini berat badan responden ketika lahir hampir mencapai 4 kg, dan karena
sang ibu mengalami obesitas maka 80% kemungkinan anak yang dilahirkannya akan
mengalami hal yang serupa.
b)
Tahap
Dini
Sewaktu
mencapai umur 6 bulan responden telah mendapat pola asuh makan yang tidak tepat
yaitu telah mendapatkan makanan pendamping selain asi, serta dari umur balita sudah terbiasa ngemil makanan-makanan ringan,
dan makan dalam porsi yang cukup banyak.
c)
Tahap
Lanjut :
Responden
mengalami kegemukan (overweight) yang selanjutnya menjadi obesitas akibat
responden yang tidak menjaga perilaku pola makannya.
3. Tahap Pasca patogensis :
Karena
responden sampai sekarang mengalami obesitas, maka atas inisiatif dari
responden sendiri, dalam kurun waktu 3 bulan terakhir responden melakukan
progam diet/ penurunan berat badan, melakukan jogging/ olahraga lainnya 2x
dalam seminggu dengan waktu 2-3 jam, dan sebelumnya responden pernah melakukan
progam diet selama 4x tetapi tidak secara konsisten dan terhenti.
d. Faktor
Resiko Obesitas.
Beberapa
faktor resiko yang dapat menyebabkna terjadinya obesitas pada responden, yaitu:
1. Host.
a)
Genetik.
Dalam
hal ini responden mengalami obesitas karena faktor keturunan/genetik. Faktor
genetik tersebut diwariskan oleh kedua orang tua dari responden sendiri, dimana
seluruh anggota keluarganya juga mengalami obesitas dan berat badan lebih.
b)
Gaya
hidup.
Responden
mempunyai kebiasaan suka tidur malam/begadang, dalam seminggu dirinya dapat
begadang sampai 3x seminggu. Nn. D.W juga mempunyai kebiasaan makan sambil
menonton tv dalam kesehariannya dan untuk aktivitas fisik sendiri sangat minim
ia lakukan.
c)
Jenis
kelamin.
Responden
berjenis kelamin perempuan. Dimana seperti diketahui perempuan mempunyai resiko
lebih tinggi mengalami obesitas dibanding pria karena adanya pengaruh hormon
endokrin.
d) Pola makan.
Responden
mempunyai kebiasaan pola makan yang tidak teratur, dimana dirinya sering
mengkonsumsi goreng-gorengan, makanan instan/mie ( 2-3x dalam seminggu), sering
mengkonsumsi makanan-makanan manis, sering makan malam/sore hari, sehabis makan
langsung tidur, sering mengkonsumsi makanan ringan yang mengandung keju, sangat
suka menyemil makanan secara terus-menerus dalam porsi kecil, suka mengkonsumsi
softdrink, mengkonsumsi coklat, dan pada saat makan responden mengatakan bahwa
ia sering makan secara teburu-buru, karena itulah rasa lapar cepat melanda
responden.
2.
Environment
a)
Sosial.
Disini
responden terkadang mengalami rasa stres/ tekanan-tekanan dari berbagai
penyebab, sehingga untuk merelaksasikan pikirannya responden melampiaskannya
kepada makanan. Adapun faktor keluarga juga berpengaruh disini dimana motivasi
untuk menyuruh dirinya melakukan diet sangat minim, yaitu dari sisi orang tua
sendiri hanya menegur saja dengan teguran-teguran kecil. Terdapat kebiasaan
keluarga yang terbiasa menyediakan makanan dalam jumlah besar pada saat di meja
makan. Pada waktu kecil keluarga responden sudah membiasakan dirinya untuk
mengkonsumsi makanan-makanan kecil/nyemil dan makan dalam jumlah yang lebih
b)
Ekonomi.
Dari
segi ekonomi responden termasuk dalam kategori orang yang berkecukupuan
sehingga untuk menjangkau mendapatkan keperluan biologisnya/ makan sangatlah
terjangkau sekali.
c)
Budaya
Responden
merupakan seorang penderita obesitas dari kecil, hal ini juga menyebabkan
sebuah kebiasaan baginya, yaitu malas melakukan aktivitas atau gerakan tubuh.
Oleh kebiaasaan yang terus menerus dalam kurun waktu yang lama akhirnya tidak
ada perubahan/penurunan yang signifikan dengan obesitas yang dialami/diderita.
3. Agent
a)
Kimia
Agent
kimia dalam hal yang menyakut pasien adalah, akibat seringya responden
mengkonsumsi makanan-makanan yang berupa snack, serta makanan siap saji yang
mengandung banyak bahan kimia yang dapat memicu serta bahan-bahan pengawet
berbahaya yang terkandung didalam makanan berupa snack tersebut.
e. 5
Tahap Upaya Pencegahan Penderita
1.
Health
Promotion
a)
Orang
tua.
Untuk mencegah
obesitas tersebut sebaiknya orang tua harus mengetahui bahaya tentang obesitas
sehingga orang tua dapat mencegah timbulnya obesitas pada anaknya, pencegahan
tersebut dapat di ketahui melalui pengetahuan edukasi kesehatan tentang obesitas,
dan merubah paradigma orang tua bahwa anak yang gemuk melebihi batas
kewajarannya bukanlah anak yang sehat dan lucu.
b) Penderita Obesitas.
Sebaiknya jika seseorang yang telah menderita obesitas
secara genetik, mulai mencari tahu apa saja dampak yang di timbulkan akibat
obesitas tersebut/ health education. Dan mulai membuka paradigma tentang
makanan tidak sebagai pemuas nafsu semata/ serta bukan sebagai pelampiasan
akibat rasa lapar yang dialami, tanpa memikirkan kembali apa-apa saja dampak yang
di timbulkan.
2.
Spesifict
Protection
Upaya
proteksi dilakukan untuk mengurangi atau menurunkan pengaruh penyebab serendah
mungkin. Salah satu bentuk spesific protection adalah mengatur pola makan
secara benar, memperbanyak aktivitas fisik, menghindari makanan-makanan yang
dapat memicu obesitas tersebut, menghindari pola/ gaya hidup yang dapat pula
memicu obesitas, hindari untuk makan dalam keadaan yang sangat lapar karena
akan memicu pengambilan porsi makanan yang cukup besar.
3.
Early
diagnosis and Promt Treatment
Pada tahap ini mulai lah mengecek kesehatan secara
keseluruhan, karena di khwatirkan bila terjadi obesitas maka akan sangat rentan
sekali menderita penyakit-penyakit degeneratif.
4.
Disability
Limitation
Untuk mencegah kembali adanya obesitas dan penyakit lainnya
yang disebabkanya, mulai lah mencoba hidup sehat , dengan makan-makanan yang
banyak mengandung vitamin, serat, mineral dan lain-lain. Mintalah motivasi dari
orang-orang terdekat untuk mengurangi atau mencegah obesitas tersebut
berlangsung lebih lama.
5.
Rehabilitation
Di tahap ini cobalah untuk melaksanakan progam diet dengan
benar (diet rendah lemak ), pergunakan progam diet yang perlahan dan stabil
lalu mencoba merubah pola pikir bahwa diet yang dilakukan juga untuk menjaga
kesehatan dan bukan semata-mata untuk mendapatkan tubuh yang indah saja.
Lakukan lah rutinitas olahraga dalam seminggu, baik olahraga berat maupun
ringan. Disiplinkan lah diri dengan progam diet yang direncanakan. Pemeliharaan
berat badan setelah penurunan berat badan tercapai. Pemeliharaan berat badan
merupakan bagian tersulit dari pengendalian berat badan. Program yang dipilih harus
meliputi perubahan kebiasaan makan dan aktivitas fisik yang permanen, untuk
merubah gaya hidup yang pada masa lalu menyokong terjadinya penambahan berat
badan/obesitas.
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
a. Obesitas
adalah suatu kondisi kelebihan berat tubuh akibat tertimbunnya lemak, Rata-rata
wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria. Perbandingan yang
normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita
dan 18-23% pada pria.
b. Obesitas
dapat dialami dari berbagai faktor yaitu dari faktor genetik, faktor
lingkungan, aktivitas fisik, pola makan, tingkat sosial, umur, jenis kelamin,
psikis, obat-obatan dsb. Dari hasil penulisan laporan ini adapun pembahasan
mengenai responden yang menderita obesitas secara genetik. Obesitas secara
genetik ini merupakan hal yang sangat sulit dihindari oleh turunannya karena
kemungkinan mengalami obesitas jauh lebih besar 80% dari orang yang tidak
genetik mempunyai riwayat keluarga obesitas.
c. Upaya pencegahan terhadap obesitas baik yang belum
menderita dan yang sudah menderita dengan cara mengatur kembali pola makan yang
baik dn benar, selektiflah dalam
menentukan makanan yang sehat dan bergizi yang tidak hanya meninggalkan rasa
kenyang saja melainkan yang menyehatkan bagi tubuh dan bukan menimbulkan
permasalahan-permasalahan obesitas. Mulai lah kembali menjalankan akitivitas
hidup sehat yaitu dengan berolahrga secara teratur , serta konsisten untuk
menjaga berat badan yang ideal untuk mendapatkan kualiats hidup yang lebih
baik.
5.2 Saran
a.
Sebaiknya
responden mulai menjaga pola dan prilaku makannya dengan benar.
b. Hindari/
kurangi makanan yang banyak menganduk lemak, seperti goreng-gorengan dan
lainnya.
c. Mulailah
melakukan aktivitas fisik secara maximal, dan olahraga lah secara teratur,
usahakan ada berolahraga dalam seminggu.
d.
Hindari
perilaku perilaku yang memancing nafsu makan.
e. Mulai
lah melakukan progam diet secara perlahan dan konsisten terhadap progamnya.
f. Saat
mengalami penurunan berat badan usahakan agar tidak menghentikan pemeliharaan
berat badan, dan tetap konsisten pada tujuan awal agar selalu terjaga berat
badan dalam keadaan idel.
DAFTAR PUSTAKA
Misnadiarly. 2007. Obesitas Sebagai Faktor Risiko Beberapa Penyakit . Pustaka Obor
Populer, Jakarta.